![]() |
| Saifuddin |
ONLINESULAWESI.NET - Dalam berbagai referensi berkenaan dengan perubahan sosial dan patologi sosial seringkali kita menjumpai kata dan kalimat "kasta" atau yang lazim disebut dengan kelas sosial. Stratifikasi sosial telah mendikotomikan kehidupan sosial dalam dimensi tertentu.
Stratifikasi sosial karena kekerabatan atau adat yang mengikat, karena kehidupan ekonomi serta pendidikan yang berbeda, sehingga memberi penanda bagi komunitas masyarakat tertentu.
Kehidupan sosial memang begitu kompleks, stratifikasi atau kelas sosial bukanlah penanda yang mutlak didalam interaksi sosialnya, walau itu sulit dinafikkan. Bagaimana kelas sosisl misalnya dimasyarakat hindu di India, ads Brahmana, syiwa, dan lain sebagainya.
Di masyarakat Indonesia seperti bangsa Melayu memiliki tingkatan sesuai marga seperti Medan ada marga simatupang, tanjung, tampubolon hutapea, sitorus, dan masih banyak yang lainnya. Di Jawa misalnya disebut priyayi, bangsawan.
Di tanah Bugis Makassar ada sebutan Petta, Andi, Karaeng, Daeng, Opu dan sebutan yang lainnya. Itu juga memberi petanda bahwa Indonesia memiliki kearifan lokal dan struktur kebudayaan yang kuat.
Dalam patologi sosial memiliki potensi yang kuat dalam meretas kebuntuan dalam kehidupan sosial. Terbukti di beberapa daerah yang berkonflik, maka terkadang problem solvingnya ditarik dari kepala suku dan adat untuk di dudukkan untuk resolusi konfliknya.
Dan dalam kurung waktu beberapa tahun setelah reformasi 1998, ada kecendrungan politik nasional dan daerah meng-endos tokoh-tokoh lokal yang punya pengaruh, memiliki basis kekerabatan, serta punya patron klien dengan kekuasaan. Karenanya, beberapa partai politik melakukan "pembujukan" terhadap tokoh yang memiliki kasta atau kelas sosial di masyarakat.
Yah, benarlah kiranya bahwa kapitalisme politik teramat sulit dihindari. Bahkan berhasil membujuk para kastawan untuk merebut tahta. Politik nyaris melahirkan bangsawan baru di frame demokrasi. Proses politik begitu nampak memperlihatkan "pemilik kasta" memperebutkan tahta. Karena seseorang nemiliki uang banyak maka ia disebut sebagai "kasta oligarkhis".
Tetapi fenomena itu sulit dibantahkan, mengingat kepentingan "tahta" telah menggusur kekuatan kasta menjadi hedonisme di masyarakat. Demikian bujukan politik yang berhasil membawa "kasta" diruang kekuasaan. Dan melahirkan kasta-kasta baru dalam dunia politik.
Indonesia adalah negara yang banyak melahirkan tokoh dipanggung politik, yang pada akhirnya menyusun stratifikasi sosial ditengah kehidupan berbangsa. Raja-raja dimasa lalu berperang karena "merebut tahta". Politik kekinian pun menggiring pemilik kasta merebut kekuasaan.
Sebab itu, kasta sebagai derajat seseorang dalam kehidupan masyarakat, maka selayaknya proses politik mengedepankan derajat kualitas dan kemanusiaan diatas segalanya. Bukan menjadikan kasta dan tahta untuk menghilangkan nilai kerakyatan dan kemanusiaan.
Oleh : Saifuddin Al Mughniy




